jakarta les privat-kinesthetic-tactile-learners

Gaya Belajar Kinestetik

Tipe belajar kinestetikal atau tactile learner atau physical learner adalah tipe belajar yang cenderung menerima informasi paling baik dan efektif dengan melibatkan gerakan tubuh (physical movement), pengalaman gerak tubuh (physical experience) atau perasaan (feeling/emotion). Ciri-cirinya adalah:

Umum:

  • Banyak melakukan aktivitas fisik ringan saat berbicara atau belajar. Misal, memutar-mutar bolpoin, menggoyang-goyangkan tungkai kakinya, memilin-milin tisu, dan sebagainya
  • Tidak betah duduk di kursi lama-lama
  • Selalu berpindah-pindah tempat saat belajar: di ruang belajar, di sofa, di tempat tidur, dan sebagainya
  • Mengingat sesuatu menjadi lebih baik apabila sambil berjalan atau menggerakan bagian tubuh tertentu, misalnya sambil menjentikkan jarinya
  • Lebih suka “trial & error” jika mencoba suatu alat yang baru
  • Suka berolahraga atau aktivitas fisik lainnya
  • Pandai meniru mimik muka atau gerakan orang lain

Fisik dan penampilan:

  • Berbicara sambil menggerak-gerakan tangan atau badan
  • Penampilannya cenderung kurang rapih (acak-acakan)
  • Biasanya suka memakai baju yang santai (jeans, sweater, dll)
  • Cenderung menggunakan pernapasan perut
  • Bola mata cenderung bergerak-gerak ke bawah saat berfikir
  • Tulisan tangan cenderung kurang bagus

Cara bicara:

  • Tempo bicaranya lambat
  • Intonasi suaranya berat

Tips dan Strategi bagi Pembelajar Kinestetikal

      Gaya belajar kinestetikal punya cara yang berbeda dengan tipe visual dan auditorial dalam strategi belajar. Berikut ini tips dan strateginya.

  • Cari “azaz manfaat” dari apa yang sedang mereka pelajari

Salah satu sifat kinestetikal adalah dia akan lebih termotivasi kalau sudah mendapatkan azaz manfaat dari apa yang dipelajarinya. Jika belum menemukan azaz manfaatnya, carilah atau hubungkanlah.

  • Gunakan highlighter yang kontras pada bahan pelajaran mereka

Di samping berfungsi untuk mengaktifkan otak kanan agar anak didik anda lebih rileks, cara ini juga akan menambah kreativitas dan menguatkan ingatan jangka panjangnya.

  • Perbanyak frekuensi break atau jeda istirahat

Ingat, yang diperbanyak adalah frekuensi jeda istirahatnya, bukan lama istirahatnya. Jadi lebih baik belajar 15 menit lalu jeda sebentar minum air atau jalan-jalan ke taman atau aktivitas apa pun yang memungkinkan mereka bergerak bebas selama 2-3 menit saja, lalu belajar lagi kurang lebih selama 15 menit, jeda lagi dan seterusnya. Ini lebih baik bagi anak yang bertipe kinestetikal daripada belajar selama 1 jam, lalu istirahat 15-20 menit. Jadi yang penting adalah diperbanyak frekuensi jedanya.

  • Lebih baik posisi berdiri daripada duduk

Tipe kinestetikal bisa belajar (terutama saat berpikir) lebih baik dengan melakukan aktivitas fisik ringan daripada sekedar duduk.

  • Pertahankan diri mereka untuk terus bergerak

Mereka bahkan dapat mengingat bahan pelajaran mereka sambil berjalan, mondar-mandir, naik turun tangga, mengunyah cemilan, memilin-milin tisu, atau bahkan sambil men-drible bola basket.

  • Pastikan mereka leluasa menggerakan tubuh mereka

Bagaimana dengan kursi belajar mereka? Apakah kursinya dapat diputar dan dinaik-turunkan?

  • Pasanglah poster “bergerak” di ruang belajar anak

Anda dapat memasangkan poster atau gambar suatu objek yang sedang bergerak di ruang belajar mereka. Misalnya gambar Michael Jordan sedang melakukan slam dunk, Rossi sedang menikung di sirkuit, dan sebagainya.

  • Menulislah di udara

Jika mereka kesulitan mengingat penulisan suatu ejaan tertentu misalnya ejaan bahasa Inggris, cobalah minta mereka menulis di udara ejaan tersebut. Mengapa ini bisa membantu? Karena dengan melakukan hal ini secara tidak sadar mereka telah menggabungkan dua tipe belajar sekaligus, yaitu dengan menggerakan tubuhnya (kinestetikal) sekaligus melihat “jejak” tulisannya (visual). Metode menulis di udara ini sering disebut dengan spelling whiz system. Ini adalah cara yang mudah dan praktis untuk menggabungkan ketiga gaya belajar.

  • Gunakan Mind Map

Menggabungkan Ketiga Gaya Belajar

Ada suatu penelitian mengenai daya ingat yang menunjukan bahwa kita rata-rata dapat mengingat :

20% : apa yang kita baca

30% : apa yang kita dengar

40% : apa yang kita lihat

50% : apa yang kita katakan

60% : apa yang kita perbuat

90% : apa yang kita baca, dengar, lihat, katakan dan perbuat

Perlu anda sadari bahwa ketiga gaya belajar di atas sudah mengakomodasi kegiatan baca, dengar, lihat, katakan dan perbuat.

Begitu juga dengan anak, walaupun anak mempunyai gaya belajar yang lebih dominan dibandingkan yang lainnya, namun yang paling baik adalah selalu berusaha memakai ketiga gaya belajar tersebut dalam kegiatan belajar. Sebagai contoh: setelah anak didik anda membaca catatannya (visual), lalu lanjutkanlah dengan sesi tanya jawab (auditorial) atau sebaliknya, setelah anda terangkan hal-hal yang mereka kurang mengerti (auditorial), lalu meminta mereka mencatatnya (visual). Lalu beri kesempatan mereka untuk memperaktekannya (kinestetikal).