jakarta les privat the-styles-of-learning

Gaya Belajar

Dari berbagai teori tipe belajar, pendekatan yang paling sering dipakai adalah pembagian berdasarkan tiga gaya belajar, yaitu gaya belajar visual, auditorial dan kinestetikal. Gaya belajar visual lebih dominan menggunakan indera pengelihatan dalam belajar, baik informasi berupa gambar atau berupa tulisan. Gaya belajar auditorial dominan menggunakan indera pendengaran, yaitu berupa bunyi, suara, musik atau pembicaraan lisan. Gaya belajar kinestetikal lebih dominan belajar dengan praktik langsung, atau melalui pergerakan atau kekuatan perasaan. Untuk dapat lebih memperjelas seperti apa gaya belajar ini mempengaruhi hidup seseorang, kami akan memberikan sebuah ilustrasi di bawah ini.

Jika kamu baru saja membeli sebuah ponsel baru dan belum pernah tahu bagaimana cara memakainya, apa yang biasanya kamu lakukan agar bisa menguasai menunya dan mengoperasikannya secara optimal? Mungkin di antara kamu ada yang memilih membaca buku panduan (user’s manual book) untuk mengetahui cara memakainya, baik untuk menelpon, kirim SMS, mengunduh, memotret dan sebagainya. Tapi pasti ada juga yang lebih suka langsung coba-coba alias trial or error. Mau kirim SMS malah masuk ke menu penyimpanan nomor telpon (phonebook), mau memotret malah merekam video, namun lama-kelamaan tahu dan hafal cara mengoprasikannya dengan benar. Atau kamu mungkin lebih suka bertanya langsung ke penjual ponsel atau teman mu yang telah lebih dulu memakai ponsel dengan merk dan tipe yang sama. Nah cara kamu mempelajari pemakaian ponsel tersebut atau mempelajari apapun, itulah yang disebut dengan gaya belajar individu kamu yang paling dominan.

Kadang-kadang gaya belajar dominan seseorang bisa berubah-ubah untuk tugas yang berbeda pula. Kadang seorang cenderung menggunakan gaya belajar tertentu untuk suatu tugas, dan ada kalanya cenderung menggunakan kombinasi gaya belajar untuk tugas yang lain. Sebagai contoh, saat masih duduk di taman kanan-kanak (TK) seseorang lebih banyak menerima informasi baru secara kinestetikal karena mereka belum bisa membaca dan menulis serta belum mudah memahami apa yang diterangkan guru di kelas. Jadi cara pembelajarannya dengan bermain dan praktik langsung. Saat di bangku sekolah SD dimana seseorang sudah mulai bisa membaca, menulis dan mencatat, gaya belajar yang “terpaksa” sering digunakan adalah visual dan auditorial. Saat kuliah, seseorang lebih sering mendengarkan dosen menerangkan sehingga gaya belajar yang “terpaksa” paling sering digunakan adalah auditorial.

Mengetahui gaya belajar dominan peserta didik adalah suatu cara jitu untuk dapat meningkatkan prestasinya di sekolah atau menumbuhkan kecintaannya dalam belajar. Kamu bisa menemukan gaya belajar dominan kamu atau peserta didik kamu jika kamu seorang tenaga pendidik dengan meminta mereka untuk mengisi kuesioner yang bisa didownload pada akhir postingan kali ini. Jika anak masih di bawah kelas 5 SD, kami sarankan untuk didampingi dalam mengisi kuesioner tersebut dan menjelaskan jika ada pertanyaan yang tidak dimengerti olehnya. Setiap gaya belajar mempunyai 12 pertanyaan, dan yang paling tinggi adalah gaya belajar yang paling dominan. Setelah anak didik mengisi kuesioner, sekarang saatnya orang tua, wali atau guru untuk mengisi Action Sheet yang juga akan kami sediakan pada akhir postingan ini. Apapun hasil dari Action sheet ini adalah suatu kewajiban bagi orang tua, wali atau guru untuk membantu dan memfasilitasi kebutuhan belajar siswanya sesuai dengan gaya belajar dominan mereka.

Sumber: Brain Management Series for Learning Strategi: Be An Absolute Genius by Sutanto Windura